Selasa, 08 November 2011

BAHAN- BAHAN BETON


Beton adalah campuran dari agregat halus dan agregat kasar (pasir, kerikil, batu pecah, atau jenis agregat lain) dengan semen yang dipersatukan oleh air dengan perbandingan tertentu. Beton juga dapat didefinisikan sebagai bahan bangunan dan konstruksi yang sifat-sifatnya dapat ditentuakan terlebih dahulu dengan mengadakan perencanaan dan pengawasanyang teliti terhadap bahan-bahan yang di pilih.
1.      SEMEN
Semen Portland adalah : bahan pengikat hidrolis berupa bubuk halus yang dihasilkan dengan cara menghaluskan klinker ( bahan ini terutama terdiri dari silikat-silikat kalsium yang bersifat hidrolis ), dengan batu gips sebagai bahan tambahan.
a.       Untuk konstruksi beton bertulang pada umumnya dapat dipakai tipe-tipe
semen yang memenuhi ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang ditentukan dalam SNI-8.
b.      Apabila diperlukan persyaratan-persyaratan khusus mengenai sifat betonnya, maka dapat dipakai tipe-tipe semen lain daripada yang ditentukan dalam NI- 8 seperti semen portland-tras, semen alumina, semen tahan sulfat dan lain-lain. Dalam hal ini, pelaksana diharuskan untuk meminta pertimbangan-pertimbangan dari lembaga pemeriksaan bahan-bahan yang diakui.
c.       Untuk beton mutu Bo, selain tipe-tipe semen yang disebut di muka, dapat juga dipakai semen tras kapur
d.      Untuk beton mutu K175 dan mutu lebih tinggi, jumlah semen yang dipakai dalam setiap campuran beton harus ditentukan denngan ukuran berat. Untuk beton mutu B1 dan K 125, jumlah semen yang dipakai dalam setiap campuran dapat ditentukan dengan ukuran isi. Pengukuran semen tidak boleh m,empunyai kesalahan lebih ± 2,5%
Beberapa macam tipe semen :
1.          Tipe I, untuk penggunaan umum, semen ini tidak memerlukan syarat khusus
2.          Tipe II, semen portland dengan panas hidrasi sedang
3.          Tipe III, semen portland dengan kekuatan awal tinggi
4.          Tipe IV, semen portland dengan panas hidrasi rendah
5.          Tipe V , semen portland yang tahan terhadap sulfat

2.PASIR
Beberapa syarat mutu pasir :
a.       Agregat halus untuk beton dapat berupa pasir alam sebagai hasil disintegrasi alami dari batuan-batuan atau berupa pasir buatan yang duihasilkan oleh alat –alat pemecah batu. Sesuai dengan syrat-syarat pengawasan mutu agregat untuk berbagai-bagai mutu beton menurut pasal 4.2 ayat 1, maka agregat halus memenuhi satu, beberapa atau semua ayat berikut ini
b.      Agregat halus harus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras. Butir-butir agregat halus bersifat kekal, artinya tidak pecah atau tidak hancur oleh  pengaruh-pengaruh cuaca, seperti terik matahari dan hujan.
c.       Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 % (ditentukan terhadap berat kering). yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui ayakan 0,063 mm. Apabila kadar lumpur melampaui 5 %, maka agregat halus harus dicuci.
d.      Agregat halus tidak boleh mengandung bahan-bahan organis terlalu banyak yang harus dibuktikan dengan percobaan warna dari Abrams-Harder (dengan larutan NaOH). Agregat halus yang tidak memenuhi percobaan warna ini dapat juga dipakai, asal kekuatan tekan adukan agregrat tersebut pada waktu 7 hari dan 28 hari tidak kurang dari 95% dari kekuatan adukan agregat yang sama tetapi dicuci dalam larutan 3% NaOH yang kemudian dicuci bersih dengan air, pada umur yang sama.
e.       Agregat halus harus terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam besarnya dan apabila diayak dengan susunan ayakan yang ditentukan dalam pasal 3.5 ayat(1), harus memenuhi syarat-syarat berikut.
                                            i.            Sisa di atas ayakan 4 mm harus minimum 2%;
                                          ii.            Sisa diatas ayakan 1 mm harus minimum 10%;
                                        iii.            Sisa diatas ayakan 0,25 mm harus berkisar antara 80% dan 90% berat.
f.       Pasir laut tidak boleh dipakai sebagai agregat halus untuk semua mutu beton, kecuali dengan petunjuk –petunjuk dari lembaga pemeriksaan bahan-bahan yang dipakai.

3.      KERIKIL
Beberapa sarat mutu kerikil yang baik :
a.       Agreagat kasar untuk beton dapat berupa kerikil sebagai hasiul disintegrasi alami dari batuan-batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari pemecahan batu. Pada umumnya yang dimaksudkan dengan agregat kasar adalah agregrat dengan besar butiran lebih dari 5 mm. semua debgan syarat –syarat pengawasan mutu agregat untuk berbagai-bagai mutu beton menurut pasal 4.2 ayat (1), maka agregat kasar harus memenuhi satu, beberapa, atau semua ayat berikut ini.
b.      Agregrat kasar harus terdiri dari butir-butir yang keras dan tidak berpori. Agregat kasar yang mengandung butir-butir pipih hanya dapat dipakai, apabila jumlah butir-butir pipih tersebut tidak melampaui 20% dari berat agregat seluruhnya. Butir-butir agregat kasar harus bersifat kekal, artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca seperti terik matahari dan hujan.
c.       Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% (ditentukan terhadap berat kering). Yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui ayakan 0,063 mm. Apabila kadar lumpur melampaui 1% maka agregat kasar harus dicuci.
d.      Agreagat kasar tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak beaton, seperti zat-zat reaktif alkali.
e.       Kekerasan dari butir-butir agregat kasar diperiksa dengan bejana penguji dari Rudeloff dengan bebab penguji 20t, dengan mana harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1.      Tidak terjadi pembubukan sampai fraksi 9,5-19 mm lebih dari 24% berat;
2.      Tidak terjadi pembubukan dampai fraksi 19-30 mm, lebih dari 22% berat.
Atau dengan mesin Pengaus Los Angelos, dengan mana tidak boleh terjadi kehilangan berat lebih dari 50%
f.       Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam besarnyadan apabila diayak dengan susunan ayakan yang ditentukan dalam pasal 3.5 ayat (1), harus memenuhi syarat-syarat berikut :
1.          Sisa diatas ayakan 3,5 mm harus 0 % berat
2.          Sisa diatas ayakan 4 mm harus berkisar antara 90%-98% berat
3.          Selisih antara sisa-sisa komulatif diatas dua ayakan yang berurutan adalah maksimum 60% dan minimum 10%
g.      Besar butir agregat maksimum tidak boleh lebih dari 1/5 dari jarak terkecil antara bidang-bidang samping cetakan, 1/3 dari tebal pelat, atau ¾ dari jarak bersih misnimum diantara batang-batang atau berkas-berkas tulangan. Penyimpangan dari pembatasan ini diijinkan, apabila menurut penilaian pengawas ahli cara-cara pengecoran beton adalah sedemikian rupa sehingga menjamin tidak terjadinya sarang-darang kerikil.
 
4.      AIR
Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh mengandung minyak, asam, alkali, garam, bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang merusak beton dan /atau baja tulangan. Dalam hal ini sebainya dipakai air bersih yang dapat diminum.
Apabila terdapat keragu-raguan mengenai air,dianjurkan untuk mengirimkan contoh air itu kelembaga pemeriksaan bahan-bahan yang diakui untuk diselidiki sampai seberapa jauh air itu mengamdung zat-zat yang beracun sehingga dapat merusak beton dan/atau besi tulangan.
Apabila pemeriksaan contoh air seperti tersebut dalam ayat (2) itu tidak dapat dilakukan, maka dalam hal adanya keragu-raguan mengenai air harus diadakan percobaan perbandingan antara kekutan tekan mortal semen + pasier dengan memakai air itu dan memakai air suling tersebut. Air tersebut dianggap dapat dipakai, apabila kekuatan tekan mortal dengan memakai air itu pada umur 7 dan 28 hari paling sedikit adalah 90 % dari kekuatan tekan mortal dengan memakai iar suling pada umur yang sama.
Jumlah air yang dipakai untuk membuat adukan beton dapat ditentukan dengan ukuran isi atau ukuran berat dan harus dilakukan setepat-tepatnya.
Pengaruh air, semen, admix terhaap kekuatan beton
 
1.ADMIXTURE
Bahan tambah atau admixture yaitu bahan tambah yang dicampurkan pada saat pengadukan beton yang dimaksudkan untuk memperoleh sifat-sifat khusus dalam pengerjaan, waktu pengikatan/pengererasan dan maksud-maksud lain.
Proses kerja dari bahan ini dari bahan tambah kimia dalam beton akan memberikan pengaruh dispersi (penyebaran, penolakan, pembubaran pada butiran pasta semen sehingga antar butiran saling tolak menolak yang disebabkan  oleh pemberian muatan negatif dalam jangka waktu tertentu yang memungkinkan air dengan bebas memobilisir material lainnya. Dengan demikian adukan beton menjadi lebih mudah dikerjakan.
Bahan tambah dibedakan menjadi 2, yaitu :
1.          Admixture           : dicampurkan dalam adukan beton saat masih basa.
2.          Additive              : ditabur pada beton keras
Untuk memperbaiki mutu beton, sifat-sifat pengerjaan, waktu pengikatan dan pengerasan ataupun untuk maksud-makasu lain, dapat dipakai bahan-bahan membantu. Tipe dan jumlah bahan pembantu yang dapat dipakai harus disetujui dahulu oleh pengawas ahli.
Manfaat dari bahan-bahan pembantu harus dapat dibuktikan dengan hasil-hasil percobaan.
Selama bahan-bahan pembantu ini dipakai, harus diadakan pengawasan yang cermat terhadap pemakaiannya.
Beberapa macam bahan tambah/ admixture beserta fungsinya :
a.       Jenis A      bahan pembantu untuk mengurangi jumlah air yang dipakai.
b.      Jenis B       bahan pembantu untuk memperlambat proses pengikatan dan pengerasan jalan/beton
c.       Jenis C       bahan pembantu untuk mempercepat dan pengikatan dan pengerasan beton.
d.      Jenis D      bahan pembantu untuk mengurangi jumlah air dan memperlambat pengikatan awal.
e.       Jenis E       bahan pembantu untuk  mengurangi air dan mempercepat pengikatan awal.
f.       Jenis F       bahan pembantu untuk mengurangi kadar air yang sangat tinggi.
g.      Jenis G      mengurangi kadar air dan memperlambat proses ikatan. (jenis F dan G disebut juga superplastiser)

2 komentar:

  1. gag ada komentar.....:D,smoga lanjut terus bagi2 ilmunya....b(*_*)d

    BalasHapus